© r-z

© r-z

MELIHAT SISI MENARIK

Ayat bacaan:

Filipi 4:8

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Ketika meliput Java Jazz kemarin, saya ditemani oleh dua orang rekan fotografer yang dengan tangkas meliput sekian banyak pentas pertunjukan selama 3 hari. Betapa beda hasil tangkapan kamera mereka dengan orang awam di dunia fotografi seperti saya. Dengan kamera yang sama sekalipun, hasil jepretan mereka ternyata jauh berbeda. Mereka bisa menangkap ekspresi-ekspresi musisi dari sudut pandang yang tepat, mereka tahu benar dari sisi mana mereka harus menangkap si objek sehingga hasilnya jauh lebih menarik. Maka gemerlap Java Jazz bisa didokumentasikan dengan baik. Foto-foto yang dihasilkan berbicara sangat banyak mengenai kemeriahan dan gemerlap sebuah pesta musik tahunan terbesar di dunia saat ini. Ketika mereka mengambil foto-foto candid dari penonton pun demikian. Orang yang menggendong anak misalnya, mungkin itu hal biasa yang kita jumpai di tengah keramaian. Tapi di tangan mereka, foto orang yang menggendong anak tersebut bisa terlihat begitu luar biasa. Sementara jika saya yang memotret, hasil fotonya tidak kabur saja sudah syukur. Itu sebuah analogi dari bagaimana sudut pandang yang berbeda bisa menghadirkan hasil yang berbeda.

Ada banyak orang yang sangat cepat melihat keburukan orang lain. Sisi negatif orang begitu mudah terlihat, namun begitu sulit rasanya melihat sisi baik dari orang lain. Padahal siapapun dia, dia adalah ciptaan Tuhan yang sama seperti kita. Perbedaan status sosial, perbedaan suku, ras atau kepercayaan seringkali membuat kita membuat dinding-dinding dan sekat pembeda atau pembatas. Padahal di mata Tuhan, siapapun mereka, mereka tetaplah masterpiece, hasil ciptaanNya yang istimewa. Daud pernah memikirkan hal ini. Mungkin pada suatu malam ia memandang keindahan langit yang bertaburan bintang-bintang dan bulan yang bersinar dengan indahnya. Itu ciptaan Tuhan yang luar biasa. Namun tetap saja manusia, yang mungkin sering dipandang tidak berarti bagi sesamanya sendiri, ternyata jauh lebih berharga dari segala keindahan alam yang terindah sekalipun. Daud pun menulis demikian: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Daud menyadari betul betapa berharganya manusia di mata Tuhan. “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” (ay 6-9). Dan Daud menutup tulisannya pada pasal ini dengan sebuah pengakuan akan keagungan Tuhan. “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 10).

Jika manusia memang diciptakan seistimewa itu, sesuai gambar dan rupa Allah sendiri, tentu kita tidak bisa menyangkal bahwa manusia itu sungguh berharga di mata Tuhan. Alangkah ironis ketika kita yang sama-sama ciptaan Tuhan malah saling menghujat, menghakimi, merendahkan atau menghina satu sama lain. Dalam mengangkat nabi-nabiNya di Perjanjian Lama, hingga murid-murid yang dipilih Yesus, kita melihat bahwa orang-orang yang dipakai pun adalah orang biasa. Bukan raja, melainkan orang biasa yang kemudian menjadi raja. Bukan pewarta firman luar biasa, tapi malah pembunuh orang Kristen yang kemudian bertobat dan bekerja secara luar biasa demi Tuhan. Nelayan, pemungut cukai, gembala dan lain-lain, bisa diubahkan Tuhan secara luar biasa. Artinya, orang yang mungkin tidak berarti di mata sesamanya manusia pun punya sisi-sisi menarik, yang bisa menjadi mutiara yang sangat berharga di mata Tuhan. Karena itulah kita harus mampu melatih pikiran kita agar tidak berpusat pada hal-hal negatif semata, namun dasarkanlah pada segala sesuatu yang baik, yang manis dan sebagainya, seperti yang ditulis oleh Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Filipi. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Dalam versi BIS kita baca demikian: “Akhirnya, Saudara-saudara, isilah pikiranmu dengan hal-hal bernilai, yang patut dipuji, yaitu hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis, dan baik.” Ini adalah penting, karena dengan menghormati ciptaan Tuhan kita juga menghormatiNya.

Mari kita senantiasa tekun menjaga kemurnian hati. Tidak memandang rendah orang lain, tidak menghakimi, tidak menghujat satu sama lain, dan sebagainya. Ingatlah bahwa siapapun mereka, mereka punya sisi menarik yang jika kita pandang dengan berdasar pada segala hal yang manis, baik, dan sebagainya seperti apa yang dikatakan Paulus, maka kita akan bisa melihat sisi lain dari seseorang. Sesuatu yang menarik dan istimewa pasti ada pada diri seseorang, siapapun mereka. Seperti analogi fotografer di awal, meski dari “kamera” yang sama, hasil yang diperoleh bisa berbeda, ketika kita tahu dari sudut mana kita harus memandang dan melihat sesuatu. Kita harus senantiasa menjaga hati dan pikiran kita agar tidak terbiasa melihat sisi negatif dari segalanya. Mazmur Daud berkata: “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5). Kita berharga dimataNya, maka mari kita menghargai pula sesama kita, yang sangat istimewa di mata Tuhan.

Latih terus hati dan pikiran kita agar mampu melihat sisi baik dan menarik dari orang lain