Lazy11Ayat bacaan:
Amsal 26:13
“Berkatalah si pemalas: ‘Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!'”

Fokus pada manfaat

Ada banyak orang yang sudah gagal sebelum memulai. Saya sendiri dulu pernah mengalami hal ini, bahkan berkali-kali. Ada banyak ide yang sebenarnya bisa saya realisasikan, namun ketika saya memikirkan faktor-faktor resiko yang mungkin muncul, saya akhirnya mundur, dan semua ide tersebut tidak jadi direalisasikan. Akibatnya saya tidak maju-maju, tetap jalan di tempat. Seringkali ketakutan berlebihan akan faktor resiko menjadi penghalang bagi seseorang untuk maju dan berkembang. Bayangan akan kesulitan yang akan timbul jika melakukan sesuatu, bayangan kesibukan yang pastinya akan menyita waktu dan merampas waktu-waktu bersantai, pikiran yang dihantui ketakutan akan ini dan itu, semuanya bisa membuat orang mengurungkan niat untuk mulai berbuat sesuatu.

Penyakit seperti di atas ternyata sudah merupakan penyakit lama. Beribu-ribu tahun yang lalu Salomo sudah menyinggung hal ini. Dalam Amsal, Salomo mengibaratkannya seperti seseorang yang berteriak akan adanya singa di jalan. “Berkatalah si pemalas: ‘Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!'” (Amsal 26:13). Singa tempatnya di hutan. Atau jika di kota pun, mungkin kita hanya menjumpainya di kebun binatang atau sirkus. Singa bukanlah hewan yang berkeliaran bebas di tengah kota, di jalan-jalan seperti kucing atau anjing yang biasa kita jumpai. Maka ayat bacaan hari ini dengan jelas menggambarkan sebuah bentuk ketakutan yang berlebihan. Karena berpikir ada singa di jalan, maka orang yang berpikir seperti ini akan malas (atau takut) untuk keluar. Ayat selanjutnya berbunyi sebagai berikut: “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.” (ay 14). Pintu hanya berputar pada engselnya. Bergerak tapi tidak berpindah, alias berjalan di tempat. Orang yang tidak berani mengambil langkah, orang yang terlalu malas untuk bangkit, orang yang malas untuk mulai melakukan sesuatu hanya akan berjalan di tempat dan tidak akan maju. Dalam ayat 16 kita membaca demikian: “Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana.” (ay 16). Ayat ini menggambarkan lebih lanjut mengenai orang yang terlalu malas untuk mulai berbuat. Meskipun banyak orang yang memotivasi, bahkan mungkin siap membantu, mereka tetap saja tidak mau memulai. Mereka hanya fokus pada resiko, kemungkinan gagal, atau tidak mau repot. Mereka terlalu malas untuk keluar dari comfort zone alias zona kenyamanan mereka. Setiap kali mau mulai bertindak, si pemalas akan langsung fokus pada hal-hal negatif, melihat faktor resiko yang mungkin bakal ia hadapi, ketimbang melihat manfaat dan hasil yang mungkin bisa ia capai dari apa yang akan dia kerjakan. Mereka terbiasa untuk membesar-besarkan masalah, dan mencari pembenaran diri akibat kemalasannya sendiri.

Kemalasan tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak suka pada pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta, kita melihat apa jawaban Tuhan pada si hamba yang tidak mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang telah dipercayakan padanya. “Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?” (ay 25:26). Dan bagi mereka ini, tempat yang disediakan adalah tempat yang tergelap yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. (ay 30). Jika kita melihat tokoh-tokoh Alkitab pilihan Allah, semuanya yang dipilih adalah orang-orang yang giat bekerja. Tuhan tidak mau memakai orang malas. Bahkan firman Tuhan berkata, “..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10). Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, keluarlah dari “comfort zone” jika perlu, dan jangan hanya fokus pada resiko, tapi lihatlah manfaatnya. Adalah baik jika kita menimbang untung rugi dan resiko-resiko yang mungkin muncul, tapi hanya fokus pada segala resiko dan kesulitan akan membuat kita berjalan di tempat dan tidak akan pernah mengalami kemajuan. Untuk mencapai keberhasilan seringkali dibutuhkan pengorbanan. Seringkali tetesan keringat dan air mata harus kita tumpahkan, namun jika kita tetap giat bekerja dengan sungguh-sungguh, melibatkan dan mengatasnamakan Tuhan dalam segala pekerjaan yang kita lakukan, percayalah keberhasilan akan menjadi buah yang akan siap dipetik sebagai berkat dari Tuhan. Para Rasul tahu resiko dan konsekuensi yang mereka hadapi dari pekerjaan mereka, namun mereka tidaklah patah semangat dan takut. Demikian kata Paulus: “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13b-14). Fokuslah pada manfaat yang akan dicapai, berhentilah fokus berlebihan pada resiko. Giatlah bekerja, dan tetaplah semangat.

Peluang tanpa perbuatan sama dengan nol.