© quinn.anya

© quinn.anya

Ayat bacaan:
1 Timotius 6:11
“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.”

Bicara soal sabar, saya rasa seorang nenek berkebangsaan Korea berikut bisa menjadi salah satu contoh luar biasa. Cha, 68 tahun, dari Korea Selatan, telah melakukan 771 kali ujian teori pembuatan SIM (Surat Ijin Mengemudi), dan masih saja tidak lulus! Menurut pihak kepolisian disana, Cha mencetak rekor orang dengan ujian terbanyak. Sejak 2005, Cha datang ke kantor polisi hampir setiap hari untuk melakukan ujian. Dan bulan Februari kemarin, ia mencapai angka 771 kali untuk kembali gagal dalam ujian teori. Tapi Cha tidak menyerah, tidak bersungut-sungut, tidak mencari jalan pintas dengan menyuap, dan tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia pantang mundur, dan terus berusaha, walaupun waktu dan biaya yang dia keluarkan sudah begitu besar. Menurut artikel yang saya baca, tidak kurang dari US $ 3600 atau sekitar 44 juta rupiah sudah ia keluarkan selama usahanya untuk mendapatkan SIM. Namun dia tetap tidak mau berhenti mencoba. Untuk apa SIM buat Cha? Sehari-hari Cha berjualan makanan dan kebutuhan rumah tangga dengan gerobak dorong dari pintu ke pintu di sebuah kompleks perumahan, dan untuk mendukung kelancaran usahanya ditambah usianya yang sudah tidak lagi muda, ia memerlukan mobil agar dapat berjualan dengan lebih mudah. Polisi disana sudah mengenalnya, dan sangat terharu dengan usaha keras Cha. Mereka sudah merencanakan sebuah penghargaan untuk Cha, jika suatu saat nanti Cha akhirnya mampu lulus ujian. Apakah Cha berencana untuk berhenti mencoba? Tidak. Dia mengatakan bahwa ia akan terus mencoba, karena ia percaya satu hari nanti ia akan berhasil. Saat ini dia masih terus berusaha mencoba dengan datang melakukan ujian setidaknya sekali seminggu.

Ketika di Indonesia kita terbiasa mencari jalur singkat buat urusan birokrasi, kisah kesabaran dan kegigihan Cha ini menjadi sangat luar biasa. Apakah Cha kurang kerjaan? Tidak. Ia bekerja, berjualan dengan mendorong gerobak di usia lanjutnya. Apakah Cha kaya raya? Tidak, kita lihat pekerjaannya bukanlah pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Apakah Cha manusia tanpa emosi dan perasaan? Cha manusia biasa juga, sama seperti kita. Artinya, jika Cha bisa, kita pun bisa. Yang membedakan hanyalah sikap dalam memandang persoalan. Orang lain gampang menyerah, Cha tetap bertekun dalam kesabaran. Soal berhasil atau tidak itu nomor dua, yang penting teruslah giat berusaha.

Dalam penutup suratnya buat Timotius, Paulus mengingatkan mengenai hal ini. “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Sebagai anak-anak Allah, kita harus menjauhi hal-hal yang negatif, yang tidak berkenan di hadapan Allah, yang bertentangan dengan Firman-firman-Nya. Apa yang harus kita tuju adalah hal-hal yang berkenan bagi Dia, salah satunya adalah kesabaran. Manusia diciptakan mempunyai emosi, yang gampang tersulut ketika berada dalam tekanan, dan punya kecenderungan untuk menyerah pada suatu titik tertentu. Itu memang manusiawi. Namun kita dapat melatih diri kita untuk kuat. Kita mampu melatih diri kita untuk lebih sabar. Berhentilah memusatkan diri pada hal-hal negatif atau kegagalan, karena itu akan melemahkan kita hingga kita berhenti berusaha. Sebaliknya fokuslah pada hal-hal yang baik, dengan memusatkan pandangan kepada Tuhan yang memampukan kita untuk melakukan apapun diluar logika dan batas-batas kesanggupan manusia. Paulus melanjutkan nasihat di atas dengan kalimat berikut: “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” (ay 12). Ketika kita mengaku percaya Kristus, itu satu hal. Namun ketika kita menunjukkan sebuah perubahan pola pikir, perubahan gaya hidup, perubahan sikap dan tingkah laku, menjadi semakin seperti pribadi Kristus, hanya di saat itulah kita menunjukkan bahwa ada iman yang tumbuh dalam diri kita sebagai hasil nyata dari menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Mengucapkan percaya itu mudah, namun membuktikannya tidak mudah. Ketika orang duniawi penuh emosi, kita sabar. Ketika dunia penuh kebencian, kita mengasihi. Ketika orang mencari jalan pintas, kita tekun menjalani proses. Ketika orang bersungut-sungut dan penuh keluhan, kita dipenuhi ucapan syukur. Ketika dunia memandang harta duniawi, kita memandang harta surgawi. Dan sebagainya. Dengan memandang segalanya dari kacamata iman, kita tidak akan mudah jatuh pada kehidupan yang penuh keluhan, komplain dan sebagainya. Iman yang terpusat pada Kristus akan membuat kita selalu mampu melihat sudut positif dari hal sulit sekalipun, dan kita pun akan senantiasa penuh dengan ucapan syukur.Itulah yang Tuhan mau. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika5:18).

Apa yang dialami para tokoh Alkitab semuanya tidak ada yang gampang. Mereka masing-masing mengalami pergumulannya sendiri, namun mereka berhasil menunjukkan ketaatan mereka pada Tuhan, mereka melalui segala proses dengan tetap fokus pada Tuhan, dan bukan pada masalah. Ada saat dimana mereka terkadang jatuh, namun mereka selalu mampu bangkit kembali dan memperoleh hasil akhir yang gemilang pada akhirnya. Apa yang dijalani tokoh-tokoh Alkitab ini hendaknya bisa menjadi teladan bagi kita semua. Itu pula yang diingatkan Yakobus. “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yakobus 5:11). Tuhan itu maha penyayang dan penuh belas kasihan! Dalam sebuah proses perjuangan hidup anda yang mungkin saat ini masih belum menunjukkan keberhasilan, bersabarlah, teruslah bertekun dan jangan berhenti bersyukur. “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Ada banyak hikmah yang bisa anda peroleh dari setiap kesulitan yang anda lalui saat ini. Jika Cha sanggup melakukannya, kitapun pasti bisa. Bersabarlah menghadapi segala sesuatu, dan pada suatu hari nanti, anda akan memetik buah yang ranum dari kesabaran anda.

Sebuah ketekunan dan kesabaran tidak akan pernah sia-sia