Ayat bacaan: Daniel 6:11
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”

Setelah mengalami sendiri, saya tahu bahwa rasanya sangat tidak enak menghadapi fitnah. Rasa sirik dan iri hati sepertinya sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia, sehingga pembunuhan karakter lewat tuduhan-tuduhan keji bisa dilemparkan dengan mudahnya hanya karena merasa iri melihat keberhasilan orang lain.  Hari ini Tuhan mengingatkan saya akan kisah Daniel yang mengalami hal yang sama.

Daniel adalah sosok luar biasa yang dikatakan punya kebiasaan dan disiplin berdoa. Dari ayat bacaan hari ini kita melihat bahwa ia biasa melakukan doa, berlutut dan memuji Allah sebanyak tiga kali sehari. Ada atau tidak ada kegiatan, sibuk atau tidak sibuk, dia tetap berdoa dengan disiplin. Tidaklah heran jika Daniel dikatakan sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu di seluruh kerajaannya. (Daniel 1:20) dan diketahui memiliki roh yang luar biasa. (6:4). Kecerdasan Daniel dikatakan melebihi 120 wakil raja dan dua pejabat tinggi lainnya. Empat kali raja lengser, Daniel masih tetap menjabat. Itu membuktikan bahwa Daniel memang beda. Kebiasaannya berdoa ternyata bisa membawa pengaruh sangat besar. Melihat kesuksesan seperti itu, mulailah para pejabat tinggi dan wakil raja merasa dengki dan iri hati, lalu kemudian mencari-cari kesalahan atas Daniel. Namun dalam Alkitab disebutkan mereka tidak mendapati kesalahan apapun. “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.” (ay 5). Namanya mencari-cari kesalahan dan hasrat untuk memfitnah, mereka menemukan sebuah metode untuk menjebak. “Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” (ay 6). Dan itulah yang mereka hembuskan pada raja. Mereka tahu betul kebiasaan Daniel dalam berdoa, dan itu mereka pakai untuk menyingkirkan Daniel. “Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa.” (ay 8). Raja Darius pun menyetujuinya. Begitu disahkan, mereka pun langsung bergegas ingin menangkap Daniel.

Ketika Daniel mendengar perihal peraturan baru ini, ciutkah Daniel? Berhentikah ia berdoa? Tidak. Daniel sama sekali tidak gentar, dia tidak cemas, dia tidak takut. Daniel tidak berusaha melarikan diri, atau berpura-pura tidak berdoa. Daniel tidak melakukan doa dengan sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan. Apa yang dilakukan Daniel menggambarkan sebuah iman yang luar biasa. “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (ay 11). Daniel kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke gua singa. namun kita tahu apa yang kemudian terjadi. Daniel selamat tanpa disentuh sedikitpun. Demikian kata Daniel: “Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.” (ay 23). Apa yang terjadi pada para wakil dan pejabat yang memfitnah dan menjebak Daniel? “Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.” (ay 25). Daniel selamat karena imannya. Dalam segala hal, termasuk ketika ia mengalami masalah, ia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk mengatasi hal itu. Dia tidak memilih untuk melarikan diri, atau mencari alternatif-alternatif penyelesaian yang sesat. Ketika masalah datang, Daniel datang pada Tuhan. Dia tetap tenang, dan berdoa memohon kepada Allah. Ketika ia hendak dicelakakan, dan ia tetap percaya dengan iman teguh pada Tuhan, bukannya celaka tapi ia malah memberikan sebuah kesaksian luar biasa atas kekuatan Allah yang dahsyat dan ajaib. Orang banyak pun melihat bahwa Daniel diselamatkan, karena kepercayaan penuh pada Allah. “Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.” (ay 24).

Ketika kita menghadapi masalah, ketika kita menghadapi tuduhan-tuduhan, ketika kita difitnah, ketika  kita mengalami persoalan, kemana kita pergi mencari jawaban? Seringkali kita terlalu mengandalkan kemampuan diri kita yang terbatas. Seringkali kita malah tidak sabar dan akibatnya tersandung dengan memilih alternatif-alternatif instan yang menyesatkan. Seringkali kita malah semakin jauh dari Tuhan. Kisah Daniel selayaknya membuka mata kita bahwa ada kuasa luar biasa di balik sebentuk doa. Dalam Yakobus kita membaca “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b). Daud menyadari betul bagaimana kuasa Tuhan mampu bekerja atas anak-anakNya yang percaya. Ketika ia dikejar-kejar musuhnya, Daud berkata: “Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan. Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku. Sesungguhnya gelora-gelora maut telah mengelilingi aku, banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.” (2 Samuel 22:3-7). “Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN adalah sandaran bagiku.” (ay 19). Mengapa Daud bisa diselamatkan Tuhan? Berikut jawabannya: “sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang; aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan.” (ay 22-24).

Tuhan sanggup melepaskan kita dari hal apapun, bahkan yang paling tidak mungkin sekalipun menurut logika manusia. Tuhan kita adalah Allah yang dahsyat dan ajaib. Ketika menghadapi masalah, fitnah, jebakan dan sebagainya dari orang-orang yang dikuasai iri hati, datanglah pada Tuhan dan berdoalah. Mintalah hikmat dan pertolongan. Tuhan akan selalu mendengar doa yang dipanjatkan anak-anakNya dengan sungguh-sungguh. Belajar dari Daniel, ingatlah bahwa ada banyak hal yang tidak mungkin menurut ukuran kita, namun tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Datanglah pada Tuhan ketika menghadapi persoalan