Ayat bacaan:
Markus 15:38
“Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.”

Pemulihan hubungan dengan Tuhan, Yesus buka jalan. Seorang rekan wartawan bercerita tentang pengalamannya ketika bertemu dengan salah seorang konglomerat Indonesia. Ketika itu ia mendekati si konglomerat dan mencoba untuk melakukan wawancara. Namun respon si konglomerat lumayan menyakitkan. “anda bisa hubungi salah satu direktur bawahan saya.. anda tidak layak mewawancarai saya. Sesuai tingkatan, hanya redaktur anda yang layak mewawancarai saya.” Rekan saya tersenyum pahit dan berkata, “ya.. masuk akal juga sih… siapa sih saya, cuma kacung bawahan, mana mungkin layak berbicara dengan konglomerat besar seperti dia.” Sebagai wartawan, saya tahu betul bagaimana susahnya melalui jalur birokrasi dan bertemu langsung dengan narasumber. Begitu pula dengan Dalam banyak hal di kehidupan atau pekerjaan kita pun demikian. Terkadang urusan protokoler yang penuh dengan birokrasi rumit dan berliku-liku harus kita hadapi. Terkadang kita hanya bisa menyampaikan aspirasi atau kebutuhan kita lewat orang-orang tertentu sebagai wakil dari orang yang dituju. Kita tidak akan seenaknya diperbolehkan untuk bertemu dengan mereka. Dalam struktur perusahaan besar pun sama. Pemilik perusahaan biasanya tidak akan mengenal karyawan dalam struktur terendah di perusahaannya. Sang karyawan terendah ini pun mungkin tidak akan pernah bertemu dengan sang pemiliki. Semua ada jenjangnya. Masing-masing hanya akan bertanggungjawab kepada supervisornya, lalu si supervisor punya atasan lagi, dan seterusnya.

Sebelum kedatangan Yesus pola birokrasi untuk menghadap Tuhan pun tidaklah mudah. Mendengar suara Tuhan saja bisa menyebabkan kematian seperti yang beberapa kali disebutkan dalam kitab Ulangan, apalagi jika melihat Allah secara langsung. Inilah konsekuensi akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Maka ada perantara-perantara yang diutus Tuhan, yaitu para nabi yang Dia pilih sendiri, untuk menyampaikan isi hatiNya kepada manusia. Coba perhatikan bagaimana firman Tuhan pada Musa ketika Dia hendak menurunkan 10 Perintah/Hukum Allah di atas gunung Sinai. (Keluaran 19-20). Tuhan menegaskan bahwa bangsa Israel tidak diperbolehkan menaiki gunung melewati pembatas. (Keluaran 19:21). Tuhan meminta agar gunung itu harus diberi pembatas dan dinyatakan sebagai tempat kudus. (Keluaran 19:23). Hanya Musa dan Harun saja yang diperbolehkan untuk bertemu dengan Tuhan. Posisi Imam Besar pun cukup memegang peranan penting sebagai perantara. Hanya merekalah yang diperbolehkan memasuki ruangan Mahakudus dalam bait Allah. Itupun hanya boleh setahun sekali, ketika mereka membawa darah korban persembahan. (Ibrani 9:25). Begitulah hubungan yang terputus antara manusia dengan Tuhan akibat jatuh ke dalam dosa. Tapi meski demikian, Tuhan begitu besarnya mengasihi manusia. Karya penebusan Kristus lewat kematianNya di atas kayu salib memulihkan hubungan itu.

Ketika Yesus wafat, saat itu juga Bait Suci terbelah dua dari atas sampai bawah. (Markus 15:38). Hal ini menggambarkan bahwa lewat kematian Yesus, Allah menghancurkan sekat pembatas yang telah begitu lama menghalangi manusia agar bisa berjumpa denganNya. Jalan yang tadinya tertutup kini sudah terbuka. Orang tidak lagi harus melalui perantaraan para Imam Besar untuk dapat bertemu Tuhan. Kita tidak lagi perlu takut mati ketika memasuki tahta kudus Tuhan, karena lewat penebusanNya, Tuhan Yesus sendirilah yang langsung menjadi perantara. “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” (Ibrani 10:19-21). Dan dengan Kristus sendiri sebagai perantara, kita bisa menghampiri tahta kasih karunia Allah dengan penuh keberanian untuk menemukan kasih karunia agar mendapat pertolongan pada waktunya. (Ibrani 4:16). Yesus telah membuka jalan sehingga kini dimanapun, kapanpun, siapapun kita ini, kita bisa bertemu dengan Tuhan.

Hari ini marilah kita semua mensyukuri dengan penuh sukacita atas apa yang telah diberikan Kristus kepada kita. Sebuah pemulihan hubungan, merubuhkan sekat-sekat pembatas antara manusia dengan Tuhan sehingga kita bisa merasakan kedamaian hadirat Tuhan hari ini. Yang penting untuk diingat, meskipun tabir Bait Suci sudah terbelah, kita haruslah menerima Yesus sebagai Juru Selamat, karena hanya lewat Yesus saja kita bisa dengan penuh keberanian untuk menghampiri hadirat Tuhan yang suci dan kudus. Sembahlah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran, dan rasakanlah kedamaian dan keindahan dari tahtaNya yang suci dan kudus. Saya tutup renungan hari ini dengan cuplikan lirik lagu Sari Simorangkir yang berjudul Karya Terbesar.

“Karya terbesar dalam hidupku
Pengorbanan Mu yang slamatkanku
Engkaulah harta yang tak ternilai
Yang kumiliki dan kuhargai
Yesus, Engkau kukagumi”

Yesus telah membuka jalan dan memulihkan hubungan kita dengan Tuhan lewat karya penebusanNya