© Sister72

© Sister72

Ayat bacaan:

Yohanes 19:30
“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”

Jumat agung, karya penebusan Yesus Film “The Passion Of The Christ” karya Mel Gibson menggambarkan beberapa jam terakhir dari kehidupan Yesus di dunia. Kita melihat berbagai dera dan siksa diluar batas perikemanusiaan yang dialami Kristus hingga akhirnya wafat di atas kayu salib. Ketika film-film Yesus sebelumnya belum berani menggambarkan seperti apa bilur-bilur dan tercabik-cabiknya tubuh Yesus, kali ini Mel Gibson memutuskan untuk memvisualisasikannya secara detail setelah melakukan observasi mendalam. Hasilnya memang mengerikan untuk dilihat. Ada begitu banyak orang yang menangis ketika menontonnya, dan tidak sedikit pula yang tidak berani melihat adegan demi adegan yang ditunjukkan. Tidak hanya itu, James Caviezel pemeran Yesus sampai mengalami pergeseran sendi bahu ketika menggotong salib, yang konon katanya kurang lebih tepat seberat salib yang waktu itu dibawa Yesus. Salah satu jenis cambuk yang dipakai oleh orang Romawi pada saat itu diketahui mengerikan. Cambuk bergagang kayu dengan tali dari kulit yang bercabang. Pada ujung-ujungnya diberi bulatan keras atau paku kecil, ada juga yang berbentuk kail di ujungnya, siap mencabik daging orang yang terkena lecutan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada ratusan lecutan mendera Yesus, dimana setiap lecutan menyobek beberapa bagian tubuh akibat adanya percabangan pada cambuk itu. Mahkota duri, memikul salib, dipaku di atas salib, hingga akhirnya Yesus pun wafat di atas kayu salib. Saya yakin kejadian sebenarnya jauh lebih mengerikan dari apa yang kita lihat dalam film “The Passion of the Christ” itu. Mungkin kita bakal pingsan jika melihat langsung proses penyiksaan hingga penyaliban Kristus.

Apa yang dijalani Kristus itu merupakan rencana Allah untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Yesus tahu betul sejak awal apa yang akan ia hadapi, bagaimana sakit yang harus ia tanggung dalam menyelesaikan misi yang diberikan Bapa. Dalam fisik manusianya Yesus sempat merasa ngeri, namun pada akhirnya Dia menyerahkan sepenuhnya sesuai kehendak Bapa. (Matius 26:39). Yesus sangat mengasihi manusia, dan Dia tahu betul betapa Bapa pun mengasihi kita, sehingga Dia harus melalui itu semua untuk menggenapkan karya keselamatan bagi semua orang. Semua itu sebelumnya sudah dinubuatkan oleh Yesaya dalam Yesaya 52:13-53:12. Yesus datang ke dunia mengambil bentuk sebagai hamba, yang sama sekali tidak menarik secara fisik. “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” (Yesaya 53:2). Yesus menanggung semuanya untuk menebus “penyakit” kita. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” (ay 3-4). Semua penderitaan Dia tanggung atas kejahatan dan pemberontakan kita. Dia dihukum supaya kita diselamatkan. “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi–” (52:14)  “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (ay 5). Inilah kehendak Tuhan. Hanya satu kali melalui karya penebusan Yesus kita menjadi dibenarkan dan mendapatkan pemulihan hubungan dengan Tuhan. “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.” (ay 10-11). Misi yang luar biasa berat untuk ditanggung oleh Anak Manusia yang seharusnya tidak layak untuk dihukum sedemikian rupa, demi menyelamatkan kita yang seharusnya tidak layak untuk menerima keselamatan. Demikianlah besarnya bentuk kasih Allah kepada kita. Maka sesaat sebelum Yesus wafat, Dia pun mengatakan: “Sudah selesai”. (Yohanes 19:30). Mission accomplished. Kita menerima keselamatan lewat karya penebusan Kristus. Lewat bilur-bilurNya kita diselamatkan.

“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” (Ibrani 9:27-28). Satu untuk semua dan selamanya. Cukup satu kali saja Yesus datang sebagai korban untuk menghapus dosa-dosa manusia, dan nanti saat Dia datang untuk kali kedua, Yesus bukan lagi datang untuk menyelesaikan persoalan dosa, karena itu semua “sudah selesai”, tapi untuk menganugrahkan keselamatan kepada orang-orang yang selalu menantikan kedatanganNya. Merayakan Jumat Agung tahun ini, marilah kita mengucap syukur dan berterimakasih atas segala pengorbanan Kristus hingga wafat di kayu salib. Tanpa itu semua kita akan tetap berada dalam jurang dosa dan tidak akan pernah dapat menghampiri tahta kasih Allah hari ini. Yesus, sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, seperti yang dinyatakan Yohanes Pembaptis telah wafat agar kita bisa menjadi anak-anak Allah yang mampu berperan efektif dalam membuat kehidupan di dunia ini bisa lebih baik. Jangan sia-siakan semua pengorbanan Kristus. Wujudkanlah rasa syukur dan penghargaan anda atas penebusanNya lewat wujud nyata dan peran aktif anda menyampaikan kasih Tuhan kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat bilur-bilurNya kita sembuh