exam

© dcJohn

Ayat bacaan:
Amsal 24:10
“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”

Kebutuhan akan pendidikan begitu penting dalam hidup kita. Ada banyak orang yang tidak berhenti mengenyam pendidikan dalam hidup mereka karenanya. Setelah SD,SMP, SMA, kuliah dan lulus S1, kemudian melanjutkan lagi ke S2 bahkan S3 dan seterusnya. Ada juga yang mengambil berbagai kursus keterampilan atau bahasa di luar pendidikan formalnya. Ayah saya berprofesi sebagai seorang dokter. Beberapa tahun terakhir dia tertarik dengan metode akupuntur, pengobatan dengan sistem tusuk jarum yang merupakan pengobatan tradisional yang sudah berabad-abad, berasal dari negeri Cina. Sistemnya tentu berbeda dengan apa yang dipelajari dalam dunia medis modern, sehingga untuk mampu menguasainya orang dituntut untuk belajar lagi selama sekian tahun. Beberapa bulan yang lalu ayah saya baru saja menghadapi ujian di Jakarta, itu di usianya yang hampir 70 tahun! Begitulah banyak di antara kita yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, yang pastinya akan banyak berguna dalam meniti kehidupan. Ayah saya selalu mengatakan “orang yang berhenti belajar adalah orang yang sudah selesai hidup.” Saya setuju dengan hal itu. Selama kita masih hidup, kita harus terus belajar. Belajar untuk memperoleh pendidikan, juga belajar mengenai kehidupan. Itu mengenai memperlengkap tubuh dan jiwa. Roh kita pun harus terus diisi Firman Tuhan agar terus bertumbuh. Umumnya sebuah proses belajar, ada ujian-ujian yang harus kita lewati agar bisa naik kelas. Selalu memusingkan dan cukup menyita pikiran jika menghadapi ujian memang, namun ujian itulah yang bisa membawa kita untuk naik kelas.

For me, everyday is a test. Saya selalu menganggap setiap jengkal kehidupan ini sebagai sebuah ujian. Saya tidak mau berhenti belajar untuk terus menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Saya yang sekarang harus berbeda dengan saya esok, dan saya esok harus berbeda dengan saya seminggu lagi, dan seterusnya. Itu sudah menjadi tekad saya. Tidak saja dalam bersikap, bertingkah laku, tidak saja dalam hal ilmu, tapi juga dalam mendalami “surat-surat” Tuhan bagi manusia yang terkandung dalam Alkitab. Saya menikmati hidup, tapi saya juga menghadapinya dengan serius. I think life is really fun, I love to play, but I don’t wanna just play around and forget to learn. Begitu kira-kira. Ujian-ujian kehidupan bisa ringan, bisa juga berat, dan seperti halnya ujian lainnya, kita bisa lulus dan bisa gagal. Bagaimana kalau gagal, haruskah kita menyerah? Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menyikapi sebuah kegagalan dan belajar dari kegagalan itu untuk mencapai sukses luar biasa lain kali. Kesempatan untuk berhasil akan selalu ada selama masih hidup. Itu pasti.

Dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidup kita lewat segala macam permasalahan, kita selalu diingatkan agar jangan sampai hilang pengharapan, patah semangat dan menyerah. Saya melihat sebuah hal yang menarik dari ujian-ujian kehidupan. Lewat cara menyikapi ujian-ujian permasalahan itulah kita akan tahu sampai dimana kita kenal Yesus, sampai dimana iman kita. Jika kita gampang menyerah, itu artinya kita belum mampu untuk percaya sepenuhnya kepada kuasa Kristus. Kita belum kenal betul pribadiNya yang luar biasa, yang jauh melebihi masalah terberat apapun dalam hidup kita. Lihatlah apa yang tertulis dalam Amsal. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Ujian demi ujian yang kita hadapi akan mampu membawa kita ke level yang lebih tinggi. Despite of the outcome, either you win or lose, either you succeed or fail, jika kita menyikapinya dengan benar, tetap dalam pengharapan yang tidak pernah padam di dalam Kristus, kita akan mendapatkan hasil luar biasa dalam pertumbuhan iman kita. Lihatlah apa yang dihadapi tokoh-tokoh Alkitab. Mereka bertemu dengan ujian-ujian yang sungguh berat, yang bagi logika manusia kelihatannya tidak masuk akal. Tapi mereka berhasil membuktikan bahwa percaya sepenuhnya pada Tuhan akan membawa hasil luar biasa. Daud ketika masih sangat muda harus bertemu dengan Goliat. Itu ujian yang tidak main-main dan beresiko nyawa sebagai taruhannya. Tapi Daud sukses, dan dari sanalah Daud kemudian dikenal. Abraham mengalami ujian yang sungguh berat. Menanti janji Tuhan begitu lama di usia yang sangat lanjut, dan ketika ia memperolehnya, ia diminta mengorbankan anaknya. Tapi Abraham percaya pada Tuhan, dan ia melalui ujian dengan sukses gemilang. Ia pun disebut bapa orang beriman lewat serangkaian ujian tersebut. Ujian boleh datang, namun cara kita menyikapinyalah yang akan membuat perbedaan.

Mari kita lihat apa kata Yakobus. “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Hadapi ujian dengan kebahagiaan, dengan sukacita, karena kita tahu ujian-ujian itu akan menghasilkan buah dalam hidup kita. Kita tidak akan bisa bertumbuh dan naik level apabila kita tidak menghadapi ujian apa-apa. Jangan sampai kita tawar hati dan patah semangat, hilang pengharapan dan kemudian menyerah. Don’t give up! Kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa selain kegagalan dengan tawar hati. Bukannya baik, malah hanya akan menambah masalah. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Maka tepat jika Yakobus menyarankan agar kita menghadapi ujian dengan kegembiraan, apalagi jika kita menyadari ada hal-hal luar biasa yang dapat kita petik dari berbagai ujian hidup itu. Tanpa ujian, kita akan berjalan di tempat, atau malah makin merosot. Karenanya, hadapilah ujian dengan penuh ungkapan syukur. Jangan lari dari masalah, tapi hadapilah dengan tegar sambil terus berpegang teguh pada Tuhan. Jangan tawar hati. Itu akan mendatangkan penyakit dan banyak masalah baru. Katakan “Sst.. saya sedang ujian..” ketika masalah datang, dan hadapilah dengan baik sehingga anda bisa naik ke level selanjutnya dengan hasil gemilang.

Ujian adalah sarana untuk naik ke level berikutnya