©Sean Dreilinger

©Sean Dreilinger

Baca: 2 Samuel 17:15-29

“Maka sampailah Daud ke Mahanaim, ketika Absalom menyeberangi sungai Yordan dengan seluruh orang Israel yang menyertainya.” 2 Samuel 17:24.

Sungguh benar yang dikatakan Salomo dalam amsalnya bahwa “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Sahabat karib terkadang lebih dapat memperhatikan dan menolong kita daripada saudara sendiri. Ketika kita sedang mengalami kegagalan demi kegagalan atau berada dalam kesesakan, kehadiran sahabat sangat berarti, bahkan sahabatlah yang senantiasa turut merasakan apa yang kita rasakan. Memiliki sahabat sejati bukan pertanda bahwa kita lemah, tidak mandiri atau tidak dewasa, justru bila kita merasa tidak memerlukan sahabat atau orang lain itu menunjukkan ketidakdewasaan kita.

Begitu juga Daud, dia punya sahabat sejati yaitu Yonatan. Firman Tuhan mengatakan, “…berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri” (1 Samuel 18:1). Selain Yonatan, Daud juga memiliki sahabat-sahabat lain seperti ltai orang Gat, Zadok, Abyatar, Husai, Sobi, Makhir, Barzilai dan juga Yoab. Ketika Daud melarikan diri dari kejaran Absalom yang hendak membunuhnya, padahal Absalom adalah anaknya sendiri, sampailah ia di Mahanaim. Daud benar-benar dalam kesulitan dan jiwanya sangat tertekan. Di tengah kesesakan itulah, sahabat-sahabat Daud bersatu dan secara sukarela menolong, “… maka Sobi bin Nahas, dan Raba, kota bani Amon, dan Makhir bin Arniel, dan Lodebar, don Barzilai, orang Gilead, dan Rogelim, membawa tempat tidur pasu, periuk belanga, juga gandum, jelai, tepung, benih gandum, kacang babi, kacang merah besar, kacang merah kecil, madu, dadih, kambing domba dan keju lembu bagi Daud dan bagi rakyat yang bersama-sama dengan dia, untuk dimakan, sebab kata mereka: “Rakyat ini tentu telah menjadi lapar, lelah dan haus di padang gurun.“ (2 Samuel 17:27-29).

Mempunyai sahabat seiman laksana merasakan tangan Tuhan menaungi. Sahabat hadir memberikan dorongan semangat, mendukung dan memberi penghiburan pada saat yang tepat, yaitu ketika Daud lapar, lelah dan haus di padang gurun. Mereka melakukan semuanya tanpa motivasi terselubung atau karena terpaksa, tetapi dengan hati tulus ikhlas sebagai seorang sahabat!

Kasih seorang sahabat tak terbatas waktu dan keadaan!

Taken from Air Hidup, Kamis, 28 Agustus 2008