Ko Affendy briefly told us the story behind this song yesterday during our Sunday service’s praise and worship. Berikut adalah cerita lebih lengkapnya yang disubmitkan oleh Ci Liana. Hope this helps us to understand more about the song dan lebih menghargainya.

Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah,

Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya
Mukjizat nyata

Chorus:
Dia mengerti, Dia peduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, Dia peduli
Persoalan yang kita alami

Namun satu yang Dia minta
Agar kita percaya
Sampai mukjizat menjadi nyata

Syair diatas adalah isi dari sebuah lagu berjudul Dia Mengerti. Dinyanyikan oleh Delon Idol feat Superkids yang terdapat dalam album kompilasi rohani anak-anak Hujan Berkat produksi Impact Music. Lagu ini menjadi soundtrack FTV yang tayangkan oleh RCTI setiap Minggu pukul 23.00 WIB.

Siapa yang sangka bahwa lagu ini diciptakan oleh seorang Pendeta dari kota Ponorogo ? Sebuah kota kecil di Jawa Timur yang saat ini tiba-tiba menjadi terkenal gara-gara kasus kesenian Reog Ponorogo yang menjadi polemik antara masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Lagu ini sudah beken di gereja lokal saya jauh sebelum kemudian terkenal secara nasional karena menjadi soundtrack sinetron rohani di RCTI. Bangga rasanya bahwa dari kota yang terkenal penuh dengan bangsa kedar, mistis, gudang ilmu gaib dan juga tempat sebuah pondok pesantren terbesar di Indoensia berdiri, ternyata masih ada orang-orang yang militan didalam Yesus yang berkarya dan prestasinya bisa melampaui tingkat nasional.

Yang menciptakan lagu Dia Mengerti ini adalah Pendeta dari gereja saya sendiri yaitu Pdt. Isaac Arief. Gereja kami bukanlah gereja besar. Jemaatnya kurang lebih sekitar 150 orang dengan jadwal Ibadah Raya Minggu diadakan dua kali, yaitu pagi hari pukul 07.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB.

Dahulu waktu pertama kali saya mengambil sebuah komitmen untuk hidup di kota sekecil Ponorogo, pernah terlintas tentang kekuatiran hidup yang akan saya alami. Saya sudah terbiasa dengan gaya hidup di Surabaya, Jakarta, dan Cinere selama enam tahun sebelumnya. Terbiasa dengan suasana hingar bingar, gerak cepat dan serba lengkap dengan fasilitas. Kembali ke kota Ponorogo seperti sebuah punishment buat saya. Mulai dari menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakatnya, membiasakan diri untuk tidak mengeluh jika apa yang saya cari ternyata tidak tersedia di kota ini. Mulai dari transportasi yang hanya bisa dilalui lewat jalur bus – tidak ada stasiun kerepa api apalagi bandara – atau kendaraan pribadi, tidak ada tempat makanan favorit saya seperti Pizza Hut dan yang paling vital bagi saya adalah tidak adanya toko buku lengkap. Ibadah di gerejapun tidak sesemarak di kota besar. Dan berhubung kami ada dilingkungan yang mayoritas bukan Kristen, kesepian kegiatan gereja kadang begitu terasa.

Memandang kekurangan kota Ponorogo terkadang membuat saya gerah. Rasanya ingin kembali terus ke masa lalu. Apalagi begitu banyak bisik-bisik di telinga saya yang menyayangkan kepindahan saya dari Cinere ke Ponorogo. Pernyataan seperti, “Kok mau sie hidup di kota kecil gitu ?”, “Bagaimana dengan kariermu ?”, “Bagaimana dengan masa depanmu ?”, “Apa keuanganmu di kota itu mencukupi keperluanmu sehari-hari ?”, dan lain-lain menghantui saya pada awalnya. Sayapun butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar menenagkan diri dan memegang kuat prinsip saya untuk membuka usaha di kota kelahiran saya ini.

Enam tahun setelah merantau keluar kota telah mengajari saya bahwa semuanya akan berjalan lancar jika saya bekerja keras dan berserah kepada-Nya. Dan itu juga yang saya lakukan ketika kembali lagi ke Ponorogo. Hampir tiga tahun saya membuka usaha saya di kota kecil ini dan semua berjalan lancar. Tidak ada masalah serius yang menimpa saya selama hidup disini dan tetap bisa meng-up date semua informasi secara global melalui media internet.

Sekarang keyakinan saya bertambah lebih kuat lagi dengan kesaksian dari Pendeta saya. Beliau adalah seorang Gembala Sidang yang rendah hati dan dekat dengan jemaatnya. Penuh selera humor dan sederhana. Siapa yang menyangka sebelumnya bahwa Beliau bisa menciptakan lagu yang sedang menanjak kepopulerannya di Indonesia saat ini dari sebuah kota kecil Ponorogo dengan segala keterbatasannya ?

Gereja saya di Ponorogo ini tidak mempunyai fasilitas selengkap seperti gereja saya sebelumnya di Surabaya, Jakarta maupun Cinere. Hanya ada alat musik seadanya dan yang penting bisa digunakan untuk beribadah tiap Minggunya. Tapi dari gereja yang sederhana ini telah Muncul seorang pencipta lagu seperti Pendeta saya. Jelas bukan karena kehebatan secara fasilitas yang membuatnya demikian, tetapi kerendahan hati dan juga kemauan untuk dipakai oleh Dialah yang membuatnya terjadi.

Tuhan tidak butuh orang pintar untuk dipakai-Nya. Tuhan tidak butuh kita harus berada di kota yang besar baru bisa menjadi berkat bagi seluruh dunia. Yesus hanya butuh hati kita untuk dipakai-Nya. Selama pengurusan dan penjualan lagu inipun, Pendeta saya sering bolak-balik ke Jakarta sambil menggembalakan domba-dombanya di Ponorogo. Beliau tidak pernah mengeluh meskipun banyak alasan untuk hal itu. Dan selalu membawa kesaksian-kesaksian yang luar biasa dari Jakarta bagi jemaatnya di gereja Ponorogo.

Yoel 3:18, “Pada waktu itu akan terjadi, bahwa gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu, dan segala sungai Yehuda akan mengalirkan air; mata air akan terbit dari rumah TUHAN dan akan membasahi lembah Sitim”.

Dimanapun kita berada asal kita melekat kepada Yesus, Dia yang akan menjadikan kita sebagai kesaksian hidup bagi kemuliaan-Nya. Tidak pandang bahwa kita berada di puncak prestasi atau lembah kelam, di kota besar atau di kota kecil, kita sempurna atau cacat, Dia terlebih bisa menggunakan segala cara untuk menunjukkan bahwa Dia Tuhan.

Kiranya kesaksian ini menginspirasi anda yang merasa terbatas dan tidak bisa berkreasi lebih karena keadaan anda sedang berada di lingkungan yang tidak memungkinkan. Semua kendali atas hidup ini ada ditangan kita. Pilihan kita hari inilah yang akan menentukan hasil kita dijejak selanjutnya.

sumber: http://cityofenjie.multiply.com/journal/item/348