Kesombongan
oleh: Sunanto — GBI LA

Ulangan 8:2 “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu. Dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”

Sebagian orang Kristen, terutama yang karismatik seperti saya ini memiliki kecenderungan untuk menyalahkan iblis bila sesuatu yang buruk terjadi. Bila ada orang Kristen yang jatuh ke dalam kenajizan maka roh babel/najis yang disalahkan. Jika ada yang sedang dimabuk asmara, giliran roh amor yang disalahkan. Jika ada yang kecanduan judi, si roh judi yang disalahkan. Ada yang anaknya malas belajar, maka ditengkinglah roh kemalasan. Bahkan saya pernah melihat ada yang lebih ekstrim lagi yaitu orang Kristen yang menengking roh rokok untuk mengalahkan kebiasaan merokok. Kasihan juga si iblis yang terus-terusan menjadi kambing hitam dari orang-orang Kristen yang tidak mau belajar untuk mematikan keinginan daging. Sebenarnya musuh terbesar kita bukanlah iblis melainkan kesombongan, iblis dapat menyerang karena kita memberi celah kepadanya. Saya tidak anti dengan peperangan rohani atau mengusir setan seperti yang dilakukan oleh Yesus.

Tetapi janganlah kita sedikit-sedikit menyalahkan roh jahat, padahal akar permasalahannya adalah hawa nafsu kedagingan yang belum dimatikan (kesombongan). Menurut Andrew Murray (a Dutch Reformed Missionary), salah satu musuh yang paling berbahaya yang mengancam orang-orang Kristen ialah kesombongan atau meninggikan diri sendiri. Tidak ada dosa lain yang bekerja dengan lebih licik dan lebih sembunyi- sembunyi daripada dosa kesombongan. Oleh karena itu orang-orang Kristen harus berjaga-jaga terhadap kesombongan. Kita harus memperhatikan apa yang diajarkan Alkitab mengenai hal itu dan belajar kerendahan hati yang dapat mengenyahkan kesombongan.

Salah satu tujuan Tuhan mengijinkan mengalami masa di padang gurun adalah supaya kita belajar untuk merendahkan hati. Di padang gurun setiap hari orang Israel makan manna, memakai pakaian yang sama selama 40 tahun. Tidak ada yang bisa ditabung untuk hari esok, berkat Tuhan hanya cukup untuk melalui dari hari ke hari. Tidak heran banyak dari orang Israel yang jatuh ke dalam dosa persungutan.
Coba bayangkan seandainya Anda termasuk salah satu orang yang ikut dalam rombongan yang hidup di padang gurun ini. Apakah Anda akan tetap bersyukur atas berkat yang hanya pas-pas an itu? Akar dari sebuah konflik atau perdebatan adalah karena masing-masing pihak mau menang sendiri dan merasa paling benar (sombong).

Saya menyukai diskusi yang membangun iman tetapi jika diskusi tersebut sudah mengarah kepada perdebatan maka itu sudah tidak membangun lagi. Jika masing-masing pihak merasa paling benar dan tidak mau menerima pendapat orang lain maka sudah pasti akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan. Bukan rahasia umum lagi bahkan hamba-hamba Tuhan sekalipun banyak yang tidak mau mengalah dalam mendiskusikan kebenaran Firman Tuhan. Oh betapa indahnya jika kita semua belajar untuk menjadi rendah hati seperti Sang Guru agung kita, Yesus Kristus.
Bila kita semua memiliki kerendahan hati maka akan terjadi kesatuan dalam Tubuh Kristus meskipun tetap akan ada perbedaan doktrin. Tidak ada lagi kecurigaan, iri hati dan perpecahan  diantara kita sehingga Tuhan akan memerintahkan berkat-berkatNya dan kehidupan untuk selamanya. Semoga satu hari kelak, DOA Tuhan Yesus supaya kita menjadi satu ini bisa terwujud. Itu hanya akan terjadi bila kita mau belajar untuk hidup dalam kerendahan hati!